Safety Leadership

Pada saat ini masih terdapat beberapa kenyataan yang sering menjadi penghambat pelaksanaan keselamatan Kesehatan Kerja, serta lindungan terhadap LIngkungan diperusahaan. Jadi Tak heran jika kecelakaan kerja Khususnya diIndonesia masih sering terjadi, dan masih tinggi.

Beberapa Contoh Hambatan Pelaksanaan K3 di Indonesia diantaranya:

  1. Masih Banyak Pimpinan perusahaan yang hanya mengejar sasaran (target) Produksi dan penghematan Budget Operasi tanpa mempertimbangkan besarnya Resiko yang timbul dari keputusan yang mereka ambil saat eksekusi pekerjaan dilapangan. Sedangkan jika mereka Memperhatikan nilai K3, ini hanya akan menambah biaya Operasional, dan menghambat tercapainya nilai pencapaian kerja (Target).
  2. Banyak Manajemen diperusahaan yang mau memperhatikan nilai kecelakaan apabila telah terjadi Kecelakaan kerja, atau bahkan tidak peduli sampai ada korban jiwa. Bahkan Saat terjadi kecelakaan
  3. Banyak perusahaan yang hanya mengutamakan pencapaian keuangan jangka pendek, yaitu laba jangka pendek. Akibatnya, upaya keselamatan kinerja sering kalah dengan tuntutan kinerja keuangab tersebut. Dengan Kata lain proses pengiritan, dan proses ini biasanya kerap sekali menimbulkan  operasi yang rawan kecelakaan.
  4. Masih rendahnya kesadaran sebagian besar tenaga kerja terhadap keselamatan kerja. Akibatnya banyak tenaga kerja yang hanya mematuhi aturan dan prosedure keselamatan kerja apabila diawasi.
  5. Keadaan Ekonomi dan Sosial diNegara Kita ini yang sering dijadikan alasan pelanggaran terhadap peraturan keselamatan kerja, misalnya: Memberdayakan Tenaga Kerja LOKAL, yang mana dapat dibayar murah yang mana tenaga kerja LOKAL atau musiman, nilai kompetensinya masih rendah dan mereka pun dipekerjakan tanpa dibekali pelatihan tentang pengetahuan dan kemampuan untuk bekerja di industri yang mengandung resiko cukup tinggi.
  6. Adanya Kesenjangan antara kenyataan hidup dalam era teknologi yang mengandung resiko cukup tinggi, dan cara pandang ini akan mempengaruhi cara pandang menilai bahaya. Sehingga para pimpinan dengan mudah untuk mengambil langkah jalan pintas (Short Cut), Yang mana cara ini sudah pasti akan dapat menimbulkan resiko bahaya.
  7. Belum adanya Perpaduan Dikurikulum Antara keselamatan kerja dengan Pendidikan Tenaga Ahli, Misalnya: Tenaga Ahli Mekanikal, didalam mengolah Teknik Kerja Mekanikal belum Mengkaitkan Pengkajian Nilai resiko dari Proses kerja Mekanikal, dan tahapan pengendalian bahaya dari proses mekanikal yang mereka dapatkan diTempat Pelatihan ataupun Pendidikan Lanjutan. Dengan Keterbatasan Pemahaman pengkajian didunia Pendidikan maupun pelatihan tenaga Ahli ini akan menjadi salah satu faktor untuk menimbulkan kecelakaan karna belum adanya pemahaman yang mendasar bahwa proses kerja yang mereka dalami sepenuhnya memiliki Nilai resiko yang Cukup Tinggi.
  8. Lemahnya pemerintah dalam menegakkan Peraturan Keselamatan kerja serta pengawasan terhadap penerapan Program Keselamatan kerja, dikarenakan terbatasnya Tenaga Ahli maupun Mutu untuk melakukan Pengawasan Penerapan Program Keselamatan kerja. Sehingga para pengusaha sering mengbaikan Nilai keselamatan didalam melakukan proses kerja atau dengan kata lain, kesedaran untuk mematuhi peraturan keselamatan kerja masih rendah.

Pandangan yang kurang tepat ini perlu disadari dan dipahami oleh para Pimpinan maupun Pemiik Usaha, agar mampu dalam melakukan proses pengendalian resiko opersional secara benar. Sehingga Proses pencapain produksi Yang sempurna (Operational excellent) melalui budaya kerja berbasis keselamatan kerja.

  1. masih mengambing hitamkan Pekerja, namun tidak memperbaiki pengelolaan perusahaan yang merupakan titik akar masalah dari kasus kecelakaan tersebut bisa terjadi.
Iklan

Pengertian SAFETY

Pemahaman Pengertian SAFETY atau Keselamatan

Keselamatan merupakan suatu faktor yang penting dalam terlaksananya kegiatan perusahaan. Setiap karyawan akan bekerja secara maksimal apabila terdapat jaminan terhadap keselamatan kerja karyawan.

Terdapat beberapa pengertian/definisi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dari berbagai macam sumber di antaranya ialah pengertian dan definisi K3 menurut Filosofi, pengertian dan definisi K3 menurut Keilmuan serta pengertian dan definisi K3 menurut standar OHSAS 18001:2007. Untuk penerapannya Klik Link Guideline.

Namun terlepas dari itu semua, jika kita mengkaji lebih dalam program safety didalam mencegah terjadinya kecelakaan ditempat kerja, kita dapat mendefenisikannya sendiri, sebagai berikut:

SAFETY atau Keselamatan adalah Semua Upaya proses pengawasan penggunaan teknologi dapat dilaksanakan dengan benar mengacu pada Work Instruction (Instruksi Kerja dari manufaktur peralatan) work procedure (Prosedure kerja peralatan yang disesuaikan dengan kondisi tempat dan suana kerja dilapangan), serta mengacu pada regulasi (Aturan” yang mengatur terhadap nilai resiko yang ditimbulkan) sehingga dapat dipertahankan.

Dari pemahaman ini dapatlah dikembangkan berbagai nilai yang berkaitan dengan keselamatan, namun pihak yang mengkaji harus jeli dan mampu menguasai penerapan penggunaan teknologi yang digunakan dilapangan secara rinci, barulah dapat memahami resiko yang ditimbulkan, dan kaitannya dengan regulasi yang dipakai.

Sekian dulu pemahaman singkat terhadap nilai keselamatan, untuk secara teoritikal yang formil berdasarkan para ahli, rekan” dapat mensearchnya (mencarinya) dihalaman web lain.

PELATIHAN K3 MIGAS

DASAR :
PERMEN ESDM No. 20 Tahun 2008  tentang Pemberlakuan Standard Kompetensi Kerja Nasional
Indonesia di Bidang Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi Secara Wajib

TUJUAN :
Training bertujuan agar peserta mampu mengerti, memahami dan menguasai aspek-aspek K3 dan
mampu mengikuti ujian STTK K3 dengan lancar.

SILABUS :
1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Industri
2. Peraturan perundangan
3. Identifikasi Bahaya
4. Higiene Industri
5. Kebisingan, PRAKTEK SOUND LEVEL METER
6. Inspeksi K3
7. Sistem Manajemen K3
8. Kimia Api
9. Teknik Pemadaman Kebakaran
10. Alat Pemadam Api Ringan, SIMULASI APAR
11. Peralatan Pemadam Kebakaran
12. Mobil Pemadam Kebakaran
13. Penyelidikan Kecelakaan
14. Surat Ijin Kerja
15. Deteksi Gas, PRAKTEK GAS DETECTOR
15. Alat Pelindung Diri, PRAKTEK SCBA
17. Alat Pelindung Pernafasan

TINGKATAN SERTIFIKASI :
1. PETUGAS / OPERATOR K3 MIGAS
2. PENGAWAS / KOORDINATOR K3 MIGAS

UJIAN STTK :
Ujian Sertifikasi dilakukan secara independen oleh LSP PPT MIGAS – PUSDIKLAT Migas Cepu.
Sertifikat diberikan bagi peserta yang memenuhi persyaratan kelulusan dalam dua bahasa (Indonesia
dan Inggris).
PERSYARATAN :
Persyaratan mengikuti ujian STTK K3 sudah disiapkan satu minggu sebelum pelaksanaan ujian
dan dikirimkan ke Adhi Kriya Kualita, terdiri dari :
1.Formulir Pendaftaran [download]
3.Surat Keterangan Kerja
4.Fotokopi ijazah yang telah dilegalisasi
5.Surat Keterangan Sehat dan Golongan Darah dari Dokter
PELAKSANAAN :
TRAINING di HOTEL DiBATAM (diSesuaikan saat pelaksanaan).
UJIAN SERTIFIKASI DI TUK PUSDIKLAT LSP PPT MIGAS CEPU.

Contact Person:

Leonardo (081378188006)

email: juntak015@gmail.com

HOME

A short introduction to mitra Akualita, its network Training, and information.

Training:

Kami menggandeng Badan Pelatihan Berkualitas Diluar Kota, yang telah terbukti dibidangnya untuk hadir dikota Batam, selanjutnya kami memberikan tambahan studi kasus penerapan materi dilapangan dengan kelas sharing sehingga lebih efektiv untuk para kandidat pelatihan untuk berekspresi dalam menghayati perannya dilapangan nantinya.

Network:

Kami berupaya menjalin Jaringan Seluas mungkin mulai dari Rekan-Rekan dipelatihan, Groups terkait dan Badan Instansi PJK3 dan yang lainnya. Saling Membagi informasi perkembangan Pelatihan K3, Peluang di K3, dan event yang Positif atau Mediasi dibidang K3.

Information:

Membangun Informasi yang akurat bagi anggota Pelatihan, baik untuk peluang kerja K3, program K3 maupun media informasi yang lain yang dapat membangun kemampuan anggota dan rekan” yang ingin mengenal program K3.